Tuesday, October 18, 2011

Ragam Pesona Kawah Tua Sano Nggoang

Seri Taman Nasional | Mbeliling
Oleh Fahrul Amama

Panorama Danau Sano Nggoang, foto: Langgeng Arief Utomo/Burung Indonesia

Hari mulai sore, ketika mobil kami menukik di tikungan terakhir menuju Wae Sano, Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Jantung terasa berhenti berdetak saat mobil menuruni belokan tajam nan terjal; jantung kembali berdenyut kencang kala roda belakang tergelincir di jalanan berbatu. Namun di ujung tikungan, pemandangan danau nan teduh, yang menyeruak di sela bambu dan semak, terpampang di depan kami. Agaknya, memang perlu sedikit adrenalin yang berujung kejutan indah untuk menikmati Danau Sano Nggoang.

Tiga jam lebih kami berkendara dari Kota Labuan Bajo, melintasi jalan raya menanjak berliku, melewati hutan Mbeliling dan kebunkebun kemiri. Usai kejutan di tikungan itu, kami menelusuri jalan berbatu mengitari sisi timur Danau Sano Nggoang. Panorama tepian danau membasuh rasa lelah kami. Puluhan itik gunung, berbaur dengan itik benjut dan belibis tutul, mengapung di permukaan danau yang hijau dan tenang. Yap, inilah geowisata!

Itik gunung bermain di permukaan Danau Sano Nggoang, foto: Riza Marlon/Burung Indonesia

Sano Nggoang merupakan danau vulkanik di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Terletak di cekungan pegunungan bagian barat, bergaris keliling 7,8 km dan menghampar 513 hektare menjadikan danau ini terluas di Pulau Flores. Meski belum tersohor seperti Kelimutu di sisi timur, Sano Nggoang menjanjikan wisata alam yang tak kalah menarik bagi para pelancong.

Kami menghirup semerbak belerang saat melewati jalan tanah menanjak yang licin. Di sisi kanan kami, membentang daerah terbuka berselimut batuan vulkanik beku di tepi danau. Sebagai bekas kawah gunung api tua, Sano Nggoang menyisakan mata air panas yang mengandung belerang, dari rekahan batu vulkanik. Bau mata air panas itu menjadi aroma terapi alami yang membuat kami tetap terjaga sebelum memasuki batas desa.

Welcome to Kampung Nunang, please come in to our simple house,” sambut Maria Sumur. Ia menyapa dengan ramah di tangga rumah dan menyilakan kami masuk. Rumahnya yang sederhana saja.

Kami agak kaget juga menerima sambutan dalam bahasa Inggris Maria, saat tiba di sebuah desa yang berjarak 48 km dari ibukota kabupaten. Maria adalah ketua kelompok sadar wisata yang sedang mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat di Kampung Nunang, Wae Sano. Dia, bersama kaum ibu anggota kelompok lainnya, dengan penuh semangat melatih ketrampilan menyiapkan masakan, melayani wisatawan dan berbicara dalam bahasa Inggris.

Maria memandu kami meniti anak tangga memasuki rumah. Hendrikus Habur, suami Maria, menyambut kami. Senyumnya khas Nusa Tenggara: gigi putih berona merah di sela gigi, pertanda pengunyah sirih sejati. Arif Junaidi, staf Burung Indonesia, memperkenalkan kami dengan anggota kelompok sadar wisata yang mengembangkan Sano Nggiang menjadi tujuan wisata alam.

Meski sederhana, acara ini adalah bagian dari tradisi curu, budaya masyarakat Manggarai dalam menyambut tamu. Kami duduk melingkar beralas tikar pandan untuk memulai kapu. Dalam ritual ini, tuan rumah mempersembahkan seekor ayam jantan putih, simbol rasa kekeluargaan dan keikhlasan hati.

Tuak disajikan sebagai hidangan penyambut untuk membilas dahaga dan lelah setelah perjalanan jauh. Di akhir prosesi, tetamu biasanya mempersembahkan uang kertas sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan menghormati arwah leluhur.

Bermalam di Wae Sano berarti melewati kegelapan tanpa polusi cahaya. Kebanyakan rumah hanya diterangi satu lampu TL bertenaga surya. Tanpa cahaya berlebihan, malam Wae Sano memberi kesempatan menikmati langit nan gemerlap. Bintang-bintang terlihat lebihberkilau. Inilah salah satu kriteria geowisata.
Di awal musim kemarau ini, galaksi BimaSakti terlihat lebih cerah, memanjang dari utarake selatan. Di sekitarnya kita bisa melihat beragam konstelasi, seperti ursa minor dan centaurus. Ingin rasanya menikmati langit sepanjang malam sampai subuh menjelang. Namun, perjalanan yang melelahkan dan makan malam yang lezat membuat kami cepat mengantuk.
Kami bangun pagi-pagi. Ajakan menjelajah ke puncak Golodewa sembari mengamati burung membuat kami bersemangat untuk segera memulai hari. Sambil menunggu teman yang lain, saya dan Hendrikus membacabaca brosur wisata Sano Nggoang di Tourist Information Point, samping Kantor Desa.

Menurutnya, pusat informasi berupa panggung gazebo 4x4 meter itu dibangun dengan dana bantuan dari pemerintah Denmark. Bangunan kokoh dari kayu jati ini berfungsi sebagai pusat kegiatan kelompok sadar wisata sekaligus menjadi titik berkumpul para tamu.

Kelompok sadar wisata ini telah berlatih keras cara mengelola dan melayani tamutamu yang menginap; untuk mengintip pengembangan ekowisata di Pulau Dewata, kelompok ini juga sempat mengunjungi Bali.

Sejak kunjungan tamu ke Sano Nggoang meningkat, Hendrikus misalnya, berusaha meningkatkan kemampuannya mengenali lokasi pengamatan burung, mengidentifikasi burung dan nama-namanya dalam bahasa Inggris.

Hendrikus menuturkan, akhir-akhir ini banyak tamu yang berkunjung ke hutan Mbeliling untuk mengamati burung, yang mendorongnya mengasah keahlian memandu pengunjung. Pada 2009 saja ada 157 wisatawan dari mancanegara yang singgah di Wae Sano. Angka ini berlipat lima kali dari kunjungan 2008, yang hanya 30 wisatawan.

Salah satu tempat menarik untuk mengamati satwa bersayap itu ada di hutan Sesok, sekitar Danau Sano Nggoang. Beberapa jenis burung endemik, seperti gagak flores, kehicap flores dan elang flores dapat dijumpai di sini. Begitu juga, burung-burung dengan sebaran terbatas seperti tesia timor, kipasan flores dan cekakak tunggir-putih menjadi daya tarik tersendiri.

Kami berjalan santai menelusuri setapak di tepi sungai kecil. Saat berbelok menjauhi sungai melintasi kebun, Hendrikus menunjuk ke arah pohon ara di dekat sungai: kawanan burung gagak flores. Sontak, kami mengarahkan teropong dan menyaksikan burung berwarna hitam kelam itu sedang mencari makan.

Penjelajahan terus berlanjut, mendaki bukit, menembus semak. Sambil berjalan, Hendrikus mengenalkan kami beberapa jenis tumbuhan obat yang dipakai masyarakat setempat. Tiba di punggung bukit, keringat mulai mengalir dan nafas mulai tersengal. Untungnya, kami sempat mengintip seriwang asia yang cantik terbang melintas; ekornya yang panjang berwarna putih berkibar-kibar. Saat nafas mulai memburu, berhenti sejenak untuk mengamati burung menjadi alasan tepat untuk rehat.

Sampai di puncak Golodewa, rasa lelah kami terbayar lunas dengan pemandangan danau yang sangat indah. Saya memandangi bentang alam Danau Sano Nggoang yang diapit pegunungan. Kehadiran elang flores yang melayang meniti angin melengkapi keindahan panorama dari puncak bukit ini.

Seperti yang biasa kita alami saat trekking, perjalanan turun terasa lebih singkat. Kami langsung menuju rumah Hendrikus untuk mandi pagi dan sarapan. Maria sudah menanti dengan pisang goreng dan kue bola dari ketela yang siap disantap sambil duduk di teras tanah. Saat menyeruput teh, kami kembali disuguhi keindahan burung caladi tilik yang hinggap di pohon depan rumah. Burung sejenis pelatuk itu terlihat sibuk mematuki lubang di batang pohon mencari serangga untuk santapannya. Sementara itu, kancilan flores berkicau ribut dari puncak pohon randu di dekatnya.

Matahari semakin tinggi, Hendrikus mengajak kami ke sumber air panas di pinggir danau untuk membasuh tubuh. Di lokasi ini terdapat tiga mata air panas dengan suhu yang berbeda: 30° C, 70° C, hingga 100° C. Ada juga pancuran air hangat yang mengandung belerang, bagus untuk natural spa: melumuri tubuh dengan endapan belerang.

Beranjak sore, kami bersiap untuk kembali ke Labuan bajo. Namun kejutan belum berakhir, ibu-ibu ternyata telah menyiapkan oleholeh: buah jeruk dan alpukat. Kami baru sadar, warga desa Wae Sano tidak sekadar memandang kami sebagai wisatawan. Ini seperti berlibur sembari menyambangi sanak keluarga.

Berbekal bentang alam, kebudayaan dan keragaman hayati yang kaya, kawasan Sano Nggoang pantas menjadi destinasi pariwisata masa depan. Kawasan ini dapat dikembangkan sebagai pariwisata berbasis masyarakat dengan aneka sisi ekowisata: budaya, pemandangan alam dan burung-burungnya.

(Sisipan National Geographic Traveller edisi November 2011)


Tuesday, June 21, 2011

Upaya Adaptasi dari Masyarakat Manggarai

Fahrul Amama

Diskusi siang itu di Desa Cunca Lolos, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, berlangsung dengan hangat. Terkadang mereka terlibat perdebatan sengit. Barangkali tak kalah sengitnya dengan perdebatan negosiator perubahan iklim dalam konferensi di Cancun, Meksiko sana, saat pertemuan tingkat tinggi yang membahas mengenai perubahan iklim dunia.

Ya, warga desa yang sebagian besar petani itu tengah berdebat mengenai siapa yang bertanggung jawab atas perubahan iklim yang tengah berlangsung. Mereka sangat tidak terima kalau dikatakan sektor pertanian menyumbangkan emisi yang mengakibatkan efek rumah kaca. “Kalau pertanian menjadi penyebab perubahan iklim, berarti pertanian harus dilarang. Lalu bagaimana masyarakat bisa makan kalau begitu?” ungkap salah satu peserta diskusi.

Warga yang lain mempertanyakan soal upaya pelestarian hutan. Menurut mereka, kalau kita saja yang menjaga hutan akan sia-sia. Karena di banyak tempat di Indonesia, hutan terus dibabat hingga luasannya terus menyempit. Vincensius Baru (Ketua Kelompok Pembangunan Masyarakat) dengan bersemangat mengemukakan pendapatnya, ”Harusnya negara-negara di dunia berkumpul dan sepakat untuk menghentikan industri yang menjadi penyebab utama perubahan iklim.”

Tetapi kemudian mereka juga menyadari, kadangkala hal terbaik yang bisa dilakukan terhadap kondisi yang telanjur terjadi – meskipun sebenarnya tidak kita inginkan – adalah beradaptasi dan sebisa mungkin mengambil manfaat terbaik dari situasi tersebut. Mereka kemudian melanjutkan diskusi dengan membahas upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk menghadapi dampak dari perubahan iklim.

Kerentanan masyarakat

Perubahan iklim memberikan dampak spesifik bagi bidang pertanian dan pangan. Dampak tersebut berupa kenaikan suhu yang melewati ambang batas suhu optimal bagi pertumbuhan tanaman, berkurangnya kesuburan ternak disebabkan stres akibat cuaca yang panas, penurunan sediaan air serta peningkatan kebutuhan air untuk irigasi, maupun peningkatan curah hujan secara ekstrim. Selain itu perubahan iklim juga berpengaruh terhadap perubahan distribusi dan produktivitas tanaman, serta punahnya berbagai jenis satwa liar endemik dan lokal.

Kerentanan sangat terkait dengan kehidupan masyarakat miskin yang bergantung kepada sumber daya alam. Ironisnya, kondisi kerentanan yang mereka hadapi saat ini bukan sekadar situasi yang tidak mengenakkan dan tidak dapat ditolak. Kondisi tersebut hadir sebagai sebuah ketidakadilan. Betapa tidak, masyarakat Manggarai yang tinggal di sekitar hutan, yang telah menjadi masyarakat yang ramah terhadap iklim, justeru sangat rentan terhadap dampak dari perubahan iklim. Gaya hidup mereka rendah karbon, dan bahkan berkontribusi mengurangi karbon atmosfer. Namun, mereka justru menjadi salah satu kelompok paling rentan saat ini.

Yoppy Hidayanto, koordinator Knowledge Center Burung Indonesia, mengatakan, peranan hutan untuk adaptasi perubahan iklim sering terlupakan dalam pembicaraan perubahan iklim. Padahal, banyak masyarakat bergantung dari sumber daya alam yang terancam makin sulit didapat karena dampak perubahan iklim. “Hutan adalah gantungan langsung bagi masyarakat yang paling rentan dampak negatif perubahan iklim”, imbuhnya.

Menurut Laura Smelter, relawan VIDA (Volunteering for International Development from Australia), tingkat kerentanan yang ada di masyarakat tergantung pula kepada kegiatan mata pencaharian utama yang dilakukan oleh masyarakat, serta sumber daya yang dimiliki. Masyarakat yang sangat bergantung pada sumber daya yang terancam akibat perubahan iklim memiliki kerentanan lebih tinggi. Karena itu, dalam upaya mengurangi kerentanan masyarakat, kemampuan adaptasi masyarakat harus ditingkatkan.

Adaptasi Menghadapi Dampak Perubahan Iklim

Kemampuan beradaptasi sangat penting karena ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa proses pemanasan global dan perubahan iklim tidak mungkin dihentikan dalam jangka pendek. Emisi dari kegiatan kita di masa lalu akan menyebabkan perubahan dalam sistem iklim global sepanjang abad mendatang. Adaptasi juga diperlukan untuk menyiagakan masyarakat menghadapi perubahan dan ketidaktentuan masa depan.

Karenanya kita perlu mempromosikan adaptasi perubahan iklim di tingkat masyarakat dengan baik. Kegiatan ini harus melibatkan para pihak dari semua lapisan masyarakat untuk memfokuskan kepada kerentanan perubahan iklim lokal. Untuk kepentingan penyiagaan masyarakat, Perhimpunan Burung Indonesia bekerjasama dengan masyarakat Desa Cunca Lolos, melaksanakan diskusi mengenai adaptasi menggunakan metode CRiSTAL (Community Risk Screening Tool – Adaptation and Livelihoods). Diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan masyarakat, mengenali dampak positif dan negatif perubahan iklim serta memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya yang ada di masyarakat.

Diskusi di Desa Cuncalolos dilakukan dalam dua sesi, seperti yang disampaikan oleh Dwi Retno Rahayuni, fasilitator diskusi dari Burung Indonesia. Diskusi awal lebih banyak berisi sosialisasi mengenai perubahan iklim, dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah menjadi isu yang mengawali perbincangan. Diskusi kedua membahas dampak yang mereka hadapi serta strategi yang bisa ditawarkan.

Melalui diskusi ini, masyarakat memperoleh pengetahuan dasar mengenai perubahan iklim dan mengidentifikasi ancaman yang mereka hadapi terkait dampaknya, sehingga menyadari permasalahan yang dihadapi dan dapat menentukan strategi menghadapinya. Masyarakat juga dapat berbagi informasi karena pertemuan menjadi media berbagi pengalaman. Masyarakat di tempat lain akan lebih ‘aware’ dengan isu mitigasi dan adaptasi, sehingga dapat bersama-sama memperbaiki strategi yang telah ada menghadapi dampak perubahan iklim. Mereka juga menjadi lebih percaya diri dalam berdiskusi merumuskan masalah dan menentukan strategi.

Dari diskusi di Desa Cunca Lolos diketahui, ternyata adaptasi telah mereka lakukan tanpa mereka sadari. Ada yang mencoba memakai atap untuk melindungi tanaman dari curah hujan yang terlalu tinggi, ada yang membuat bedeng supaya tanaman tidak terendam banjir. Ada pula yang muncul dengan ide mengembangkan ternak babi saat curah hujan ekstrim melanda. Cuaca itu sangat cocok untuk menanam ubi/talas yang menjadi makanan babi. Hasil penjualan babi dapat dijual untuk dijadikan modal pada saat kekeringan melanda. Adaptasi juga mereka lakukan melalui perubahan pola tanam dengan pemilihan jenis tanaman yang cocok dengan curah hujan tinggi seperti tanaman sayur di pekarangan.

Diskusi ini juga menjadi tambahan informasi bagi banyak pihak (pemerintah maupun swasta) terkait hubungannya dengan proyek maupun program yang ditujukan untuk membantu masyarakat sehingga menjadi lebih efektif. Strategi yang telah mereka terapkan mungkin lebih efektif daripada yang ditawarkan atau direncanakan oleh proyek. Karenanya mengetahui strategi apa yang bisa ditawarkan oleh masyarakat menjadi penting dalam mengembangkan program yang lebih tepat sasaran.

Perubahan iklim tidak hanya mempengaruhi alam, tetapi juga manusia, produktivitas serta mata pencaharian masyarakat. Karena itu, dampak perubahan iklim dan cuaca yang berubah-ubah harus pula menjadi pertimbangan dalam program yang dikembangkan di tingkat masyarakat. Fasilitator dapat berperan menyiapkan kondisi optimal agar mereka dapat melakukan adaptasi.

Masyarakat bisa memanfaatkan potensi dampak positif untuk membangun strategi lebih optimal. Namun mereka memiliki keterbatasan dalam menerapkan strategi yang mereka telah tentukan, seperti keterbatasan informasi, teknologi, modal maupun kemampuan negoisasi dengan pihak pemerintah. Yang penting dipahami adalah, setiap orang memiliki naluri adaptasi, dengan cara yang berbeda-beda. Selain itu, masyarakat selalu memiliki solusi sendiri untuk masalah yang mereka hadapi. Seperti yang kita peroleh dari hasil diskusi adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat Manggarai.*

Thursday, May 05, 2011

Om Niu: Penemu Manuk Niu

Fahrul P Amama
P
agi itu, ketika matahari mulai menerobos pepohonan, Anius Dadowali mulai menuruni lembah yang terjal. Tangan dan kakinya yang kekar dengan sigap menapaki jalur yang licin dan berbatu. Tugasnya mengambil air di sungai kecil di dasar lembah harus tuntas sebelum matahari meninggi. Awan yang menggantung di bulan Oktober yang basah membuatnya khawatir, sebentar lagi hujan. Kesigapannya menjadi penting agar tim peneliti yang membuka base camp di atas punggungan bisa segera menyiapkan makanan mereka.


Om Niu (kanan) bersama Om Eping sahabatnya pengelana hutan Sahendaruman.

Pegunungan Sahendaruman merupakan jejeran pegunungan berbentuk tapal kuda di bagian selatan Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Pegunungan yang merupakan kawah tua dari bekas gunung berapi itu berjarak sekitar 80 km dari Tahuna, ibukota Kabupaten Sangihe. Bagi ayah tiga anak yang akrab dipanggil Om Niu itu, hutan di Pegunungan Sahendaruman memang menjadi rumahnya. Hampir setiap hari dia masuk kawasan hutan yang luasnya 500 hektar untuk mencari rotan dan liana. Tak heran kalau dia hafal hampir setiap relung hutan di Pegunungan Sahendaruman.

Saat tiba di mata air, Om Niu langsung menyiapkan jergen plastik untuk diisi air. Ini sudah menjadi pekerjaan rutin setiap pagi sejak dia bergabung dengan tim peneliti. Tetapi, waktu mengisi air di jergen plastik, matanya yang sipit berkerut menangkap kelebatan burung berwarna biru yang melintas di antara belantara pohon dan liana yang berlumut tebal. Pengetahuannya tentang burung-burung di hutan Sahendaruman yang mumpuni membuat instingnya langsung bereaksi. Selama ini tak pernah dia lihat burung berwarna biru. Kalau memang yang berkelebat itu burung dan berwarna biru, tentulah burung langka. Dengan degup jantung yang makin kencang segera dia mencari burung yang membuat hatinya berdesir.

Sejurus kemudian dia mendapatkan burung itu hinggap tak jauh dari tempat dia mengambil air. Tak banyak detil yang bisa dia dapat dari pengamatan tanpa teropong. Tapi dengan mata telanjang dia sudah bisa memberikan sedikit gambaran, deskripsi yang cukup untuk disampaikan kepada tim peneliti saat dia melaporkannya nanti. Dari jarak yang agak dekat dia dapat melihat tubuh burung bagian bawah yang berwarna kelabu, bagian atas berwarna biru langit dengan lingkar mata berwarna putih. Jelas sekali, ini burung yang tidak pernah dia lihat seumur hidupnya.

Burung biru yang tak betah bertengger itu terbang berpindah-pindah dari dahan satu ke dahan lain, mengikuti tupai yang terlihat sibuk. Gerakan tupai itu mengusik serangga-serangga kecil yang menjadi santapan si burung biru. Om Niu terus mengikuti gerak-gerik burung biru itu sampai menghilang di dalam kanopi hutan. Tak berlama-lama di mata air, Anius segera kembali ke base camp untuk melaporkan temuan burung biru yang menarik itu kepada tim peneliti.

Mendengar laporan Om Niu, semua anggota tim peneliti segera bergegas turun ke lembah. Lupakan soal sarapan dan makan siang. Mereka ingin segera ke mata air untuk membuktikan temuannya. Tiba di lokasi, mereka mengambil posisi masing-masing dan mengendap-ngendap di semak seperti pasukan Amerika dalam perang Vietnam. Dalam senyap mereka mencari-cari burung biru di antara rimbun pepohonan, sambil sesekali mengarahkan teropong ke arah tajuk hutan. Anius kemudian memberi kode dan menunjuk ke arah pohon tempat sang burung biru bertengger.

Semua teropong mengarah ke burung biru tersebut. Selama beberapa detik, tak ada suara yang keluar, tapi senyuman satu persatu muncul dari wajah para peneliti itu. Senyum itu terus melekat sepanjang pengamatan mereka. Ekspresi yang menggambarkan kekaguman bercampur kegembiraan dan kepuasan. Seolah mewakili sepotong kalimat melankolis, usai sudah pencarian ini.

Setelah puas menyaksikannya mereka kemudian berjalan kembali ke base camp. Mereka tetap tak bersuara, hingga sesaat setelah tiba di base camp semuanya bersorak serentak meluapkan kegembiraan. Ada air mata bahagia, ada senyum yang membuncah, dan wajah sumringah. Om Niu menyaksikan semua ungkapan perasaan itu sambil tersenyum biasa saja. Setiap kali anggota tim menyalaminya dan memberi selamat, Om Niu tetap tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia tersipu-sipu dengan cara yang bersahaja. Om Niu sama sekali tak merasa telah melakukan hal yang heroik untuk dunia ilmu pengetahuan.

Om Niu tak pernah menyangka burung biru yang ditemukannya itu kemudian mengejutkan ahli burung seantero jagad. Tadinya dia hanya tahu bahwa burung biru itu memang dicari-cari oleh tim peneliti dari Inggris dan Indonesia. Sudah berbulan-bulan mereka melakukan survei di pegunungan Sahendaruman tanpa pernah bersua. Ini kali kedua mereka datang setelah tahun sebelumnya para peneliti harus pulang dengan tangan hampa.

Sebagai seorang petani dari desa di pelosok Sangihe, Om Niu tak pernah mengecap pendidikan formal yang baik dan benar. Bahkan SD pun tak lulus. Seperti kebanyakan anak di desanya, Ulung Peliang, sekolah selesai begitu mereka bisa berhitung dan membaca. Cukup supaya mereka tak ditipu orang kota. Tak banyak yang sampai khatam SD, apalagi yang meneruskan ke jenjang lebih tinggi.

Kalau orang menanyakan umurnya, dia akan cepat menjawab 38 tahun. Tapi jangan coba menanyakan tanggal lahir Om Niu. Dia akan kembali garuk-garuk kepala. Mungkin hanya Tuhan yang mengetahuinya. Orang-orang di desanya tak terbiasa mencatat tanggal kelahiran anak-anaknya. Apalagi mengurus akta kelahiran.

Om Niu terpilih sebagai anggota tim karena dialah orang di desanya yang paling kenal seluk beluk hutan di Pegunungan Sahendaruman. Dari pengalamannya keluar masuk hutan, Om Niu dapat mengenali berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang ada di hutan dan menyebutkan nama lokalnya. Dia tak menyangka pengetahuannya dibutuhkan oleh tim peneliti, kumpulan orang-orang pintar yang sedang mencari burung yang hilang.

Sekian lama Om Niu membantu tim peneliti sebagai porter, tak pernah dia menyadari sumbangsihnya bagi dunia ilmu pengetahuan. Dialah orang pertama yang menemukan burung khas sangihe nan langka, setelah 120 tahun tak pernah terlihat lagi. Meski pada akhirnya, peran Om Niu hanya diperlihatkan dalam bagian ucapan terima kasih pada sebuah artikel yang dimuat di jurnal ilmiah.

Dari penuturan Jon Riley, ketua tim peneliti, Om Niu baru tahu kalau jenis burung itu adalah seriwang sangihe, salah satu burung paling langka di Asia saat ini. Dari Jon pula Om Niu kemudian tahu kalau seriwang sangihe yang memiliki nama ilmiah Eutrichomyias rowleyi pertama kali ditemukan oleh seorang peneliti asal Jerman pada tahun 1874, dan sejak saat itu tidak pernah lagi terlihat hingga penemuan mengejutkan di lembah Sahengbalira.

Om Niu juga tidak mengira kalau seriwang sangihe hampir saja divonis punah oleh ahli burung, kalau saja dia tak menemukannya kembali di Pegunungan Sahendaruman. Sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Mei 1987, jurnal Conservation Biology terbit dengan sampul ilustrasi seriwang sangihe dan memuat paper ilmiah yang menyebutkan bahwa burung itu telah punah. Kalau saja seriwang sangihe tidak ditemukan Om Niu, mungkin dunia ilmiah akan melupakannya. Mungkin juga tak akan ada aksi pelestarian jenis kebanggaan masyarakat Sangihe itu, dan masyarakat semakin tak peduli dengan hutan di Sahendaruman, tempat Om Niu dan masyarakat lainnya mencari penghidupan.

Tapi Om Niu cukup bangga ketika kemudian masyarakat di Sangihe kemudian sepakat memberi nama sangihe untuk burung temuannya Manuk Niu, persis seperti namanya. Sudah banyak orang-orang tua dan tokoh adat yang ditanya tentang nama Sangihe untuk burung seriwang sangihe, tak satupun yang mengetahuinya. Begitu langkanya burung ini, hingga hanya sedikit orang yang pernah melihatnya dan khasanah bahasa di Sangihe tak sempat merekam sebuah nama untuknya.

Kalau ada yang membaca buku Panduan Lapangan Burung-burung di Kawasan Wallacea (Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara), akan dapat menemukan nama Niu di dalamnya. Pada buku yang disusun oleh B J Coates dan K D Bishop dan edisi bahasa Indonesianya itu terdapat keterangan tentang jenis burung seriwang sangihe. Pada bagian deskripsi jenis disebutkan nama lokalnya, yaitu burung niu. Nama yang diambil dari nama Om Niu, penemu burung langka dari Desa Ulung Peliang.*

Friday, August 24, 2007

Seriwang sangihe Eutrichomyias rowleyi

Fahrul P. Amama
Seriwang sangihe (Eutrychomyias rowleyi) yang hanya terdapat di Pulau Sangihe (Sulawesi Utara) disebut-sebut sebagai salah satu burung paling langka di dunia saat ini. Populasinya hanya sekitar 19–135 ekor. Karenanya tidak heran jika BirdLife International memberikan status keterancaman tertinggi yaitu “kritis” bagi jenis ini.

Seriwang sangihe merupakan genus tersendiri Eutrychomyias, dengan species tunggal, tanpa ras. Burung pemakan serangga nan cantik ini pertama kali diketahui berdasarkan awetan yang diperoleh A. B. Meyer, seorang naturalis berkebangsaan Jerman, pada tahun 1873. Setelah itu seriwang sangihe tidak terdengar lagi beritanya, kecuali dua catatan perjumpaan yang meragukan (1978 dan 1995). Beberapa ahli sempat mengkhawatirkan bahwa jenis ini telah punah, hingga pada bulan Oktober 1998 burung ini ditemukan kembali di hutan primer di bagian selatan pulau Sangihe. Orang di Sangihe menyebutnya dengan nama daerah Manu’ Niu, sebagai penghormatan kepada Om Niu (Anius Dadowali), warga desa Ulung Peliang, Kecamatan Tamako, Kabupaten Sangihe. Om Niu lah yang pertama kali menemukan kembali seriwang sangihe, setelah kurang lebih 125 tahun tidak terlihat lagi keberadaanya. Saat itu Om Niu tengah membantu tim Action Sampiri gabungan peneliti dari Inggris dan Indonesia yang melakukan ekspedisi riset di sana.

Ukurannya kurang lebih 18 cm. Punggung, sayap serta ekor biru langit, dengan bagian ekor lebih biru dan gelap di tepi ekor. Pas sekali dengan nama Inggrisnya, Caerulean-Paradise Flycatcher. Sayap terbang berwarna abu-abu gelap, sementara bagian tenggorokan hingga perut berwarna abu-abu terang dan agak kebiruan di bagian sisi. Lingkar sekitar mata berwarna putih dengan pupil mata berwarna coklat gelap dan paruh hitam. Di sekitar paruh terdapat kumis cukup panjang. Kaki berwarna abu-abu kebiruan dengan jari kaki dan kuku berwarna kelabu.

Seriwang sangihe secara alami menghuni kawasan lembah yang masih berhutan di Pegunungan Sahendaruman pada ketinggian antara 475 meter hingga 650 meter di atas permukaan laut. Endemik Pulau Sangihe ini memiliki penyebaran yang sangat sempit dan terkonsentrasi di lembah lembah curam yang masih berhutan. Luas hutan primer yang menjadi habitatnya di Pegunungan sahendaruman hanyalah sekitar 519 hektar, kira-kira seluas Kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Dari 45 lembah sekeliling Gunung Sahandaruman yang telah disurvei pada tahun 2006, hanya 21 lembah di antaranya ditemukan populasi seriwang sangihe. Populasinya yang sangat kecil serta hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut menjadi ancaman utama bagi kelestarian seriwang sangihe.

ilustrasi: Fahrul Amama (Yayasan Sampiri, 2000)

Tuesday, April 17, 2007

Unforgetable Journey to Forgotten Islands

A story from Tanimbar Islands, Western South-east Maluku
by Fahrul P. Amama

Arrival

It’s the end of the rainy season and the Monsoon breeze is still blowing humid air from the east, along with rain clouds from the Pacific Ocean, through Maluku Region. A Cassa 212 with 20 passengers from Ambon flies over the Banda Sea heading the South to the Tanimbar Islands, known as the forgotten islands of Indonesia. These islands lie between Timor and Papua on the South-eastern edge of Indonesian territory, closer to Australia in the South than to the provincial capital Ambon (06o 35’- 08 o22’ S; 130o 40’ – 132o 03’ E). There are 67 islands in the Tanimbar group, most of them tiny, separated by shallow waters and ringed with mangrove forests and coral reefs. The three main islands with significant forest are Yamdena, Larat and Selaru.
After about two hours flight, this propeller plane approaches Yamdena Island, the largest of the Tanimbar group. A long black cloud hangs over most of the southern shore of the island, reducing visibility, and the plane has to drop low, searching for a fissure in the cloud, before starting its final descent. When plane bursts through the low cloud a magnificent view unfolds of a broad, flat island still covered by semi evergreen rainforest. The remoteness of Tanimbar Island has helped protect it from the ravages experienced by forest in much of Indonesia, and Yamdena supports the most extensive tracts of monsoon and semi evergreen forest in eastern Indonesia. However, this rich green carpet is vulnerable. Tanimbar's limestone geology and small size make it very vulnerable to soil erosion and reduced water supplies if forest is cleared.
As the plane passes low over the forests of southern Yamdena we can see the green canopy from the window. Below us, a flock of stunning bright white birds flies over the dark green. It is not hard to guess that these are the Tanimbar Corella Cacatua goffiniana, one of the main reasons for this journey: to take action for threatened parrots in Tanimbar.
Indonesia is one of the two most important countries in the world for biodiversity conservation. This exemplified by the psittacines: 77 parrot species occur in Indonesia and the country is the most important in the Asia Pacific region in terms of the number of threatened parrot species, the Maluku region itself supports 32 parrot species. Two of them are endemic to the Tanimbar Islands: the Cockatoo, Tanimbar Corella C. goffini and Blue-streaked Lory Eos reticulata. Both are currently considered ‘near-threatened’ but are vulnerable to exploitation and habitat loss across their small island range.
The plane is getting lower, approaching the small airfield at Saumlaki. Saumlaki is the only large town in the Tanimbar Islands and is the headquarters of the Government of the new District of Western South-east Maluku. As we drive into town, the small island atmosphere is disturbed by the activity of a newly developing District. In the town center, many new buildings have been constructed for housing and government offices. Western South-east Maluku District owes its existence to a radical law passed by the Indonesian Government in 1998, decentralizing many powers to provincial and local governments. However the delegation of power has not been followed by funding for the new administration or for development of these poorest regions of the country. As a result there is a great risk that the new local government, under-staffed, under-skilled and lacking income, will turn to the forests and land on Yamdena as one of the most obvious sources of support.

The Market

The next day, when we wandered though the crowded market close to the harbour, familiar calls attracted us to the edge of the market area. There was a stall with at least 27 Blue-streaked Lory Eos reticulata, crowded in a tiny cage. Trappers from Laroembun, a small village in eastern Yamdena, caught the Lories by using snares. They are selling the distressed birds cheaply, not more than 2 US$. From previous survey reports, we already aware that trapping is carried out openly and is a normal activity for the people.
The reports and our finding in the Saumlaki market on my first day on the island have shown us how important BirdLife Indonesia’s work for the conservation of the Tanimbar parrots is. The communities on Tanimbar are poor, very religious, and have strong traditional systems for managing land and resources. However their traditional systems have not coped well with new commercial pressures from outside the island (such as the demand for Parrots), or with the conflict between the system imposed from central Government in Jakarta in the past, and local ways of managing resources. Environmental education can make communities aware of the threats posed by these new problems, and the new opportunities that they have under a decentralised government. At the same time it can make them aware of the unique species and habitats that there are on Tanimbar, and increase their sense of pride in the islands environment.
common that it is a problem for farmers, should we be worrying about its conservation?” Well, there are many examples of birds which were apparently common becoming threatened or even extinct (look at the passenger pigeon). We also know that the forests on Tanimbar are under increasing threat from local owners of chain saws. Habitat loss and trapping could combine to produce a devastating reduction in the population. Now, whilst there are still significant number of the birds, is the critical time to work out how Corellas and people can co-exist and the birds’ survival can be ensured. We need to know how we can help individual farmers who suffer most from the loss of crops to the birds. At the same time we need to change the attitude of people on the island so that they agree that trapping is not something that should be part of daily activity on Tanimbar. The good news is that there seems tIn some places, at certain times of year, the Parrots are significant problems for farmers. During my friend’s previous visit he saw flocks of 100s of Cacatua goffini raiding rice crops close to the edge of the forest. When we hear such reports it is natural to ask, “If the species is soo still be time to take action on Tanimbar, the challenge is to use that time effectively!"


foto: David Purmiasa, Fahrul Amama (Burung Indonesia), Thomas Arndt (Papagien Stifftung)

Journey to the East Coast

by Fahrul P. Amama

The journey began with a short visit to Arui das, a coastal village in eastern Yamdena. We visited Arui Das at the end of June to meet some parrot trappers and have discussion with them about parrot trapping and trade activities. With their help, we have been able to investigate the Blue-streaked Lory and Tanimbar Corella trade. This approach has proven to yield the greatest amount of information as trappers have the detailed knowledge of their target species and are very familiar with the bird trade business. This information will be communicated to KSDA (the Natural Resources Conservation Agency of the Indonesia Department of Forestry, who have responsibility for law enforcement) and will be as the basis for the future joint activities with KSDA on trapping and trade.

Field Trip to Arui Das
The east wind was still strong in June, and the eastern sea was not friendly at all, so we went to the nearest village by minibus. After 3 hours bumpy excursion on a road that reminded me of the “Camel Trophy” off road competition, we reached the end of suitable road in Sangilat Krewain village and had to continue the trip on foot, walking through white sandy beach about 4 km to Arui Bab Village. We used small boat to cross the river and the coastal reef from Arui Bab village to Arui Das. We stayed 3 nights at Arui Das and spent 2 nights in the forest with some villagers.
On the second day, we were directed to the farm nearby the forest and found some roost sites of Tanimbar Corella. We also saw Eclectus parrots sharing the habitat with Tanimbar Corella. Although the site is about 7 km inland from the village, it is still a few hundred meters outside the forest edge. Only a few pairs of Lories were seen passing through the area during that afternoon and the following morning. Although this lack of birds could be due to seasonal movements, it seems more likely that the findings reflect the general decline in the species in Yamdena, which has been exploited since 1986.

According to a parrot trapper from Arui Das, there are as many as 25 parrot trappers still active in 15 villages in eastern Yamdena. They trap parrots only if they get orders from Saumlaki. He said that the parrot trade started to be common around 1986, and had a booming year in 1992 when trader from Bugis (Sulawesi) came to some villages and bought the birds. If there is a market for them, each trapper can get 100-200 birds in a trapping season each year, and some trappers get as many as 300 or more birds. However the trapper also said that the price for birds is now so low that many people do not bother with trapping, and he was convinced that if there was any enforcement of the law (a risk of penalties for trappers), it would not be worth it for anyone.
The trapper also claimed that trappers were supposed to ask for licenses from KSDA, but that some trappers ignore that and become illegal trappers. The trapper’s explanation illustrates the confusion about implementation of the law on Tanimbar: in fact, all trapping is illegal and KSDA does not have the authority to issue a trapping permit for these species, which are protected.
In the past some reports concluded that the main reason for trapping the Cockatoos and some other parrot species is to reduce crop damage, and that the income is only a side- benefit.. Based on our observation and discussions, this is not now true. People trap the parrots for economic reason (to earn extra cash income), not because the birds are pests for the crops. If there is no buyer they do not trap them.

Foto: Fahrul Amama, Hans Bashari (Burung Indonesia)

Journey to the West Coast

by Fahrul P. Amama

Daily he works as a labourer in Saumlaki harbour. He receives birds from village trappers and sells them to cargo ships that sail to Surabaya (East Java). He claimed that to avoid trouble from government officials many traders pay about 300000 IDR (35 US$) to KSDA for a licence to transport the birds. It seems that they are exploiting an exception in the law on trading protected species, which allows a licence to transport one or two individuals of a protectedAfter the trip to Arui Das we met a parrot trader in Olilit lama, a small village near Saumlaki, the capital of Tanimbar. According to him, parrot trading is a side job for him in the trapping season, from March to June. species which have been given as a gift, not for buying and selling. The trader also claimed that they pay a ‘tax’ of about 2500 IDR (0.25 US$) to local government for each bird they sell. The traders story has not been proved, but if it is true it is an example of the conflicts that can occur in the implementation of law – at national level one branch of the Government (KSDA) sets a zero quota for a protected species, whilst at local level another branch of Government is only concerned with getting tax on trade, without worrying whether the trade is legal or not!
Even more interesting was the traders comments confirming what the trappers said about the current trends in the market for these birds. He said that the price is now so low that he breaks even if only he sells fifty parrots a year, and only makes a worthwhile profit if he can sell at least a hundred parrots each year. He claimed that he is still indebted to some trappers, because the birds he received from them died before he could sell them, and so he does not have the cash to pay them.

Wermaktian Journey

The next field trip, in July and August, was visiting some villages in Wermaktian Sub-district on the western side of Yamdena. We visited 3 villages in this region (Makatian, Wermatang and Batu Putih) and made a short visit to 5 villages in Seira Island, a nearby island close to Batu Putih to get some information about local knowledge of natural resources management. We spent 4 nights in each village.
In Makatian village, we went to the forest near the Makatian River and observed the forest condition there. We also saw flocks of Blue streaked Lories flying pass the village. These flocks of Lories containing a hundred or more individuals come across the sea to Yamdena Island every morning from nearby small islands. In the evening, as the sun sets on the horizon these birds fly back from the main island to its satellites. The view reminded us of what S.J. Hickson, a naturalist from Europe, wrote about his visit to the Talaud Islands (North Sulawesi) in the 19th century, where he saw a similar spectacle of huge numbers of the endemic Red-and-blue Lories. These days the Lories on Talaud have been drastically reduced, and it was a pleasure to see this that this beautiful sight can still be found on Tanimbar.
The next day, we made a short visit to Seira, a small island off-shore from Makatian village. We visited 5 villages in this island and met with the head of Wermaktian sub-district and the village heads. From there, we crossed the straits on a small boat through the strong current and high waves to Wermatang village. At Wermatang village, we saw groups of villagers logging the forest along the river side. Each group can log 10 m3 of wood per week and sells it in Saumlaki. We spent 3 nights in this village and had a meeting with village leaders. On the next day, we visited Batu Putih, spent one night, and then went back to Makatian Village. The main objective of these meetings was to fill questionnaires and carry out group discussions, to enable us to understand the local people’s perceptions and ideas about conservation, forests and Parrots on Tanimbar. One of the points that emerged very clearly is that there is widespread ignorance amongst communities of the zero quotas set by the government for parrot trade, and no idea that their endemic Parrots are protected from international trade through listing in CITES appendix 1. In mid August we sailed back to Saumlaki.

foto: Fahrul Amama (Burung Indonesia)

Monday, October 30, 2006

Burung-burung yang “Berlayar”
(Jejak-jejak Perdagangan Nuri Talaud)
Fahrul P. Amama
Bagian Pertama

Om Yan Loronusa, seorang ratumbanua (pemangku adat) di Kampung Ensem, Kecamatan Essang, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, bakal kaget kalo mendapat kesempatan mengunjungi Natural History Musium di London. Soalnya di sana dia bisa melihat burung nuri talaud yang telah diawetkan di salah satu diorama di bagian depan musium. Boleh jadi dia bakal bertanya ke pemandu, gimana caranya sampai burung yang asalnya dari Talaud itu bisa “bertengger” di salah satu musium terkenal di Eropa. Dan sang pemandu akan menjawab,”Dengan berlayar menyeberangi samudera, Om.”
Kita pun mungkin akan sama terkejutnya jika mengetahui bahwa burung tersebut telah sampai di Eropa melalui jalur pelayaran abad ke XVIII. Nuri talaud (Eos histrio) merupakan jenis endemik di Kepulauan Sangihe dan Talaud. Di Talaud burung ini memiliki nama lokal Sampiri, sementara masyarakat di Sangihe mengenalnya sebagai Sumpihi. Kisah pelayaran burung-burung ini sedikit banyak telah mengungkapkan jejak-jejak perdagangan nuri talaud sejak ratusan tahun yang lalu. Jika ditelusuri lebih jauh, perdagangan nuri talaud boleh jadi telah berlangsung sejak lama sekali. Dan kisah perdagangan nuri talaud harus ditarik ke ratusan tahun yang lalu, di abad XVIII.

Kedatangan Bangsa Barat dan Interaksi Talaud Dengan Negeri Tetangga
Kedatangan bangsa asing sekitar abad XVIII, tak dapat dibantah, merupakan salah satu faktor yang ikut membuka peluang dimulainya bisnis perdagangan satwa, terutama burung. Souvenir-souvenir berupa burung awetan yang dikirim para pelaut Eropa, telah menarik minat kalangan kolektor maupun naturalis dan ahli biologi yang bekerja di berbagai musium di Eropa.

Nuri talaud telah dikenal dunia ilmiah sejak tahun 1760 yang ditetapkan sebagai jenis sendiri berdasarkan specimen yang dikirim ke musium. Tahun 1885 Sidney J. Hickson, seorang naturalis berkebangsaan Inggris, melakukan perjalanan ke Sangihe dan Talaud. Alkisah, pada tanggal 16 November 1885 beliau tiba di Talaud dan berlabuh di Lirung. Di Pulau Salibabu ini, masyarakat menjual dan memberi hadiah beberapa ekor Nuri Talaud kepada awak kapalnya. Nah, Hickson memperoleh tiga ekor spesimen nuri talaud dari perjalanan ini. Kisah perjalanannya ini diceritakan dalam bukunya yang dipublikasikan tahun 1889.
Seorang naturalis lain bernama Dr. Murray juga memberitahu, saat beliau tinggal di atas kapal Challenger, mereka bertemu perahu dari Miangas berisi 22 orang yang membawa tikar dan empat ekor burung nuri yang masih hidup dalam keadaan terborgol oleh cincin yang terbuat dari tempurung kelapa. Empat ekor nuri talaud itu mereka bawa untuk ditukar dengan tembakau. Ini dikisahkan oleh St. G. Mivart dalam bukunya yang terbit tahun 1898. Laporan-laporan naturalis yang datang ke Talaud sedikit banyak memberikan gambaran bahwa nuri talaud telah lama dijualbelikan sebagai souvenir maupun sebagai komoditi yang bernilai tinggi. Ini dapat menjadi indikasi bahwa perdagangan Sampiri sebenarnya telah berlangsung sejak lama sekali.

Catatan-catatan perjalanan para pelaut Eropa seperti Pieter Alsten dan David Haak maupun Magelhaens, yang berkunjung ke kepulauan Talaud sekitar abad XVI dan XVII juga mengungkapkan bahwa penduduk Kepulauan Sangihe sudah sering melakukan pelayaran ke Filipina, Siam (Thailand), dan Cina. Kisah peperangan yang melibatkan kerajaan Tabukan di Sangihe, Kerajaan Ternate, dengan Spanyol maupun Portugis di sekitar perairan Mindanau dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, juga mengindikasikan adanya hubungan antara kerajaan di Sangihe

dan Ternate yang sudah cukup erat. Dalam masa ini, kehadiran pelaut Sangihe di pulau Karakelang tidak terelakkan. Hingga saat ini kedatangan orang Sangihe di kampung Bowombaru, Karakelang, masih menjadi cerita sejarah bercampur legenda dan mistik yang diturunkan dari mulut ke mulut.
Orang-orang tua di kampung Bowombaru mengatakan, sekitar tahun 1948 mereka sudah berlayar ke Filipina membawa kopra, cengkeh dan nuri talaud untuk dijual. Keterangan dari masyarakat kampung Bowombaru di Pulau Karakelang (Talaud) bahkan menyebutkan bahwa mereka sudah sering berlayar ke Filipina dan Sangihe sejak lama sekali dengan menggunakan perahu layar kecil bercadik. Kadang mereka sampai terdampar hingga di Halmahera serta Pulau Palau (Republik Palau).

(Foto Diorama London Natural History Museum oleh Tisna Nando, FFI)

Burung-burung yang “Berlayar”
(Jejak-jejak Perdagangan Nuri Talaud)
Fahrul P. Amama
Bagian Kedua

Penyelundupan dan Keberadaan Kapal Ikan Filipina

Menurut keterangan masyarakat di Kampung Apan, Talaud, kegiatan penyelundupan kopra dan cengkeh berlangsung marak sekitar tahun 1963. Selain Mindanao Selatan (Filipina), tujuan penyelundupan juga sampai ke Tawau (Malaysia). Pelaut Sangihe menguasai jalur perdagangan dari Halmahera-Sangihe-Mindanao Selatan. Sementara pelaut Bugis dan Talaud lebih cenderung ke Tawau. Mereka berhubungan dengan kelompok penyelundup di Tawau dan Mindanao yang membawa barang selundupan dengan menggunakan kompit (kapal kayu berbobot mati 12-15 ton). Selain kopra dan cengkeh, burung nuri menjadi salah satu komoditi favorit yang cukup tinggi harganya. Keterangan masyarakat menyebutkan, selain nuri ternate, penyelundup Sangihe juga membawa sejenis nuri dari Sangihe yang menurut mereka memiliki corak warna yang sama dengan nuri talaud.
Keterangan dari orang Filipina yang tinggal di Melonguane, Talaud, menyebutkan bahwa sekitar tahun 1990-an, General Santos mulai kehabisan pasokan ikan akibat overfishing yang terjadi di perairan Filipina. Namun kondisi ini tidak berpengaruh besar terhadap produktivitas pabrik pengalengan ikan disana yang dikenal sebagai produsen ikan kaleng terbesar di Asia. Ini dikarenakan ekspansi daerah operasional armada kapal ikan mereka di perairan yang sudah masuk wilayah NKRI. Pengawasan teritorial oleh TNI AL yang sangat lemah membuat kapal-kapal pukat dan penampung ikan Filipina berkeliaran bebas di wilayah perairan RI. Lebih parah lagi, mereka bermitra dengan pengusaha lokal di Sulawesi Utara dan membuat mereka dapat leluasa beroperasi di perairan Maluku, Sulawesi, dan Sangihe dan Talaud dengan berbendera Indonesia.
Jalur pelayaran yang cukup jauh ini membuat kapal-kapal tersebut seringkali terpaksa singgah di Karakelang karena kehabisan air minum atau kerusakan mesin. Ini membuka kembali kontak dagang ilegal antara orang Filipina dan orang Talaud di pesisir Timur Karakelang. Sialnya, para awak kapal ikan Filipina tersebut juga melakukan bisnis burung sebagai usaha sampingan mereka yang sangat menguntungkan. Selain nuri talaud, ribuan ekor nuri dari Ternate dibawa ke Filipina melalui jalur ini. Burung-burung ini dijual dengan harga Rp. 25.000 – Rp. 50.000 per ekor. Perdagangan nuri talaud seringkali dilakukan pula melalui sistem barter untuk ditukar dengan panci alumunium, penggorengan, sangkur, dan minuman keras (Tanduay, London Gin, dan minuman berakohol lainnya). Bisnis ini melanggar ketentuan internasional karena nuri talaud merupakan satwa dilindungi yang masuk dalam Appendix I CITES dan tidak boleh diperdagangkan antar negara.

(Ilustrasi Nuri Talaud oleh Fahrul P. Amama, Yayasan Sampiri, 2001)