Thursday, May 05, 2011

Om Niu: Penemu Manuk Niu

Fahrul P Amama
P
agi itu, ketika matahari mulai menerobos pepohonan, Anius Dadowali mulai menuruni lembah yang terjal. Tangan dan kakinya yang kekar dengan sigap menapaki jalur yang licin dan berbatu. Tugasnya mengambil air di sungai kecil di dasar lembah harus tuntas sebelum matahari meninggi. Awan yang menggantung di bulan Oktober yang basah membuatnya khawatir, sebentar lagi hujan. Kesigapannya menjadi penting agar tim peneliti yang membuka base camp di atas punggungan bisa segera menyiapkan makanan mereka.


Om Niu (kanan) bersama Om Eping sahabatnya pengelana hutan Sahendaruman.

Pegunungan Sahendaruman merupakan jejeran pegunungan berbentuk tapal kuda di bagian selatan Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Pegunungan yang merupakan kawah tua dari bekas gunung berapi itu berjarak sekitar 80 km dari Tahuna, ibukota Kabupaten Sangihe. Bagi ayah tiga anak yang akrab dipanggil Om Niu itu, hutan di Pegunungan Sahendaruman memang menjadi rumahnya. Hampir setiap hari dia masuk kawasan hutan yang luasnya 500 hektar untuk mencari rotan dan liana. Tak heran kalau dia hafal hampir setiap relung hutan di Pegunungan Sahendaruman.

Saat tiba di mata air, Om Niu langsung menyiapkan jergen plastik untuk diisi air. Ini sudah menjadi pekerjaan rutin setiap pagi sejak dia bergabung dengan tim peneliti. Tetapi, waktu mengisi air di jergen plastik, matanya yang sipit berkerut menangkap kelebatan burung berwarna biru yang melintas di antara belantara pohon dan liana yang berlumut tebal. Pengetahuannya tentang burung-burung di hutan Sahendaruman yang mumpuni membuat instingnya langsung bereaksi. Selama ini tak pernah dia lihat burung berwarna biru. Kalau memang yang berkelebat itu burung dan berwarna biru, tentulah burung langka. Dengan degup jantung yang makin kencang segera dia mencari burung yang membuat hatinya berdesir.

Sejurus kemudian dia mendapatkan burung itu hinggap tak jauh dari tempat dia mengambil air. Tak banyak detil yang bisa dia dapat dari pengamatan tanpa teropong. Tapi dengan mata telanjang dia sudah bisa memberikan sedikit gambaran, deskripsi yang cukup untuk disampaikan kepada tim peneliti saat dia melaporkannya nanti. Dari jarak yang agak dekat dia dapat melihat tubuh burung bagian bawah yang berwarna kelabu, bagian atas berwarna biru langit dengan lingkar mata berwarna putih. Jelas sekali, ini burung yang tidak pernah dia lihat seumur hidupnya.

Burung biru yang tak betah bertengger itu terbang berpindah-pindah dari dahan satu ke dahan lain, mengikuti tupai yang terlihat sibuk. Gerakan tupai itu mengusik serangga-serangga kecil yang menjadi santapan si burung biru. Om Niu terus mengikuti gerak-gerik burung biru itu sampai menghilang di dalam kanopi hutan. Tak berlama-lama di mata air, Anius segera kembali ke base camp untuk melaporkan temuan burung biru yang menarik itu kepada tim peneliti.

Mendengar laporan Om Niu, semua anggota tim peneliti segera bergegas turun ke lembah. Lupakan soal sarapan dan makan siang. Mereka ingin segera ke mata air untuk membuktikan temuannya. Tiba di lokasi, mereka mengambil posisi masing-masing dan mengendap-ngendap di semak seperti pasukan Amerika dalam perang Vietnam. Dalam senyap mereka mencari-cari burung biru di antara rimbun pepohonan, sambil sesekali mengarahkan teropong ke arah tajuk hutan. Anius kemudian memberi kode dan menunjuk ke arah pohon tempat sang burung biru bertengger.

Semua teropong mengarah ke burung biru tersebut. Selama beberapa detik, tak ada suara yang keluar, tapi senyuman satu persatu muncul dari wajah para peneliti itu. Senyum itu terus melekat sepanjang pengamatan mereka. Ekspresi yang menggambarkan kekaguman bercampur kegembiraan dan kepuasan. Seolah mewakili sepotong kalimat melankolis, usai sudah pencarian ini.

Setelah puas menyaksikannya mereka kemudian berjalan kembali ke base camp. Mereka tetap tak bersuara, hingga sesaat setelah tiba di base camp semuanya bersorak serentak meluapkan kegembiraan. Ada air mata bahagia, ada senyum yang membuncah, dan wajah sumringah. Om Niu menyaksikan semua ungkapan perasaan itu sambil tersenyum biasa saja. Setiap kali anggota tim menyalaminya dan memberi selamat, Om Niu tetap tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia tersipu-sipu dengan cara yang bersahaja. Om Niu sama sekali tak merasa telah melakukan hal yang heroik untuk dunia ilmu pengetahuan.

Om Niu tak pernah menyangka burung biru yang ditemukannya itu kemudian mengejutkan ahli burung seantero jagad. Tadinya dia hanya tahu bahwa burung biru itu memang dicari-cari oleh tim peneliti dari Inggris dan Indonesia. Sudah berbulan-bulan mereka melakukan survei di pegunungan Sahendaruman tanpa pernah bersua. Ini kali kedua mereka datang setelah tahun sebelumnya para peneliti harus pulang dengan tangan hampa.

Sebagai seorang petani dari desa di pelosok Sangihe, Om Niu tak pernah mengecap pendidikan formal yang baik dan benar. Bahkan SD pun tak lulus. Seperti kebanyakan anak di desanya, Ulung Peliang, sekolah selesai begitu mereka bisa berhitung dan membaca. Cukup supaya mereka tak ditipu orang kota. Tak banyak yang sampai khatam SD, apalagi yang meneruskan ke jenjang lebih tinggi.

Kalau orang menanyakan umurnya, dia akan cepat menjawab 38 tahun. Tapi jangan coba menanyakan tanggal lahir Om Niu. Dia akan kembali garuk-garuk kepala. Mungkin hanya Tuhan yang mengetahuinya. Orang-orang di desanya tak terbiasa mencatat tanggal kelahiran anak-anaknya. Apalagi mengurus akta kelahiran.

Om Niu terpilih sebagai anggota tim karena dialah orang di desanya yang paling kenal seluk beluk hutan di Pegunungan Sahendaruman. Dari pengalamannya keluar masuk hutan, Om Niu dapat mengenali berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang ada di hutan dan menyebutkan nama lokalnya. Dia tak menyangka pengetahuannya dibutuhkan oleh tim peneliti, kumpulan orang-orang pintar yang sedang mencari burung yang hilang.

Sekian lama Om Niu membantu tim peneliti sebagai porter, tak pernah dia menyadari sumbangsihnya bagi dunia ilmu pengetahuan. Dialah orang pertama yang menemukan burung khas sangihe nan langka, setelah 120 tahun tak pernah terlihat lagi. Meski pada akhirnya, peran Om Niu hanya diperlihatkan dalam bagian ucapan terima kasih pada sebuah artikel yang dimuat di jurnal ilmiah.

Dari penuturan Jon Riley, ketua tim peneliti, Om Niu baru tahu kalau jenis burung itu adalah seriwang sangihe, salah satu burung paling langka di Asia saat ini. Dari Jon pula Om Niu kemudian tahu kalau seriwang sangihe yang memiliki nama ilmiah Eutrichomyias rowleyi pertama kali ditemukan oleh seorang peneliti asal Jerman pada tahun 1874, dan sejak saat itu tidak pernah lagi terlihat hingga penemuan mengejutkan di lembah Sahengbalira.

Om Niu juga tidak mengira kalau seriwang sangihe hampir saja divonis punah oleh ahli burung, kalau saja dia tak menemukannya kembali di Pegunungan Sahendaruman. Sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Mei 1987, jurnal Conservation Biology terbit dengan sampul ilustrasi seriwang sangihe dan memuat paper ilmiah yang menyebutkan bahwa burung itu telah punah. Kalau saja seriwang sangihe tidak ditemukan Om Niu, mungkin dunia ilmiah akan melupakannya. Mungkin juga tak akan ada aksi pelestarian jenis kebanggaan masyarakat Sangihe itu, dan masyarakat semakin tak peduli dengan hutan di Sahendaruman, tempat Om Niu dan masyarakat lainnya mencari penghidupan.

Tapi Om Niu cukup bangga ketika kemudian masyarakat di Sangihe kemudian sepakat memberi nama sangihe untuk burung temuannya Manuk Niu, persis seperti namanya. Sudah banyak orang-orang tua dan tokoh adat yang ditanya tentang nama Sangihe untuk burung seriwang sangihe, tak satupun yang mengetahuinya. Begitu langkanya burung ini, hingga hanya sedikit orang yang pernah melihatnya dan khasanah bahasa di Sangihe tak sempat merekam sebuah nama untuknya.

Kalau ada yang membaca buku Panduan Lapangan Burung-burung di Kawasan Wallacea (Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara), akan dapat menemukan nama Niu di dalamnya. Pada buku yang disusun oleh B J Coates dan K D Bishop dan edisi bahasa Indonesianya itu terdapat keterangan tentang jenis burung seriwang sangihe. Pada bagian deskripsi jenis disebutkan nama lokalnya, yaitu burung niu. Nama yang diambil dari nama Om Niu, penemu burung langka dari Desa Ulung Peliang.*